Warga masyarakat mengeluhkan pemasangan sejumlah atribut partai politik (Parpol) di Kota Yogyakarta tidak sesuai dengan tempatnya. Hal ini sangat mengganggu kenyamanan dan ketertiban terutama pengguna jalan. Sekarang ada ribuan atribut parpol terutama bendera dan spanduk yang dipasang di Kota Yogya. Dari sekian banyak atribut itu ada sebagian yang dipasang tidak pada tempatnya, rusak, tiang miring dan hampir jatuh sehingga membahayakan keselamatan masyarakat. Selain mengganggu ketertiban pemasangan atribut parpol yang tidak sesuai tempatnya juga membuat citra tidak baik dari parpol yang bersangkutan.
Archive Page 2
Terhitung berlaku mulai pukul 00.00 Wib tanggal 1 Desember 2008, harga eceran Bahan Bakar Minyak (BBM) tertentu jenis Premium turun menjadi Rp 5.500 per liter”, kata Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Departemen ESDM Sutisna Prawira dalam siaran persnya di Jakarta.
Ironis, generasi sekarang sudah tidak lagi mengenal pahlawan nasional. Di salah satu stasiun tv, ditayangkan acara yang membuat kita cukup prihatin. Seorang reporter membawa lembaran papan bergambar pahlawan nasional, bertanya pada orang2 disekitarnya. Reporter menunjuk gambar salah satu pahlawan nasional, dan bertanya “Ini gambar siapa?”. Ada yang menjawab, “Siapa ya, kayaknya pernah tau, deh.” Ada pula yang menjawab “Maaf, lama gak sekolah. Jadi lupa ama pelajaran sejarah dulu.” Ada pula yang beralasan “Saya memang orang Indonesia, tapi sejak kecil tinggal di luar negeri, jadi gak dapet pelajaran sejarah nasional Indonesia.” Busyet dah. Atau ketika seorang guru tk bertanya pada murid-muridnya. “Sebutkan nama pahlawan nasional yang kalian ketahui!” Akan dijawab, “Naruto!”, “Ultraman!”, “Pahlawan bertopeng!” dan “Batman!” Katanya bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Kalo gak tau gimana cara menghargai, ya minimal mengingat namanya. Sukur tahu sejarahnya gimana. Ngapain setiap hari Senin, anak2 sekolahan pada “mengheningkan cipta” dalam upacara bendera kalo gak tau mengheningkan cipta buat siapa. Jadi, siapakah pahlawan kita?

Nampak mencolok dalam foto, seorang penari yang bertubuh bongsor mengenakan kebaya hijau ngejreng. Dia adalah Jacinda Bernadette Layleen Fifita, peserta yang berasal dari Tonga. Untuk diketahui saja, Kerajaan Tonga adalah sebuah negara kepulauan di Samudra Pasifik bagian selatan, sekitar sepertiga perjalanan antara Selandia Baru dan Hawaii. Tonga terletak di sebelah selatan Samoa dan timur Fiji.
Pagelaran Seni Budaya dalam rangka penutupan program Indonesia Channel 2008, berlangsung pada Jumat, 31 Oktober 2008 di Taman Budaya Yogyakarta. Acara yang melibatkan 50 seniman muda dari 29 negara ini menampilkan berbagai macam seni pertunjukan tradisional. Salah satunya adalah Sendratari Ambabar Batik yang merupakan hasil ngangsu kawruh para peserta di Sanggar Soerya Soemirat, Solo. Sendratari Ambabar Batik adalah gubahan tari kontemporer yang menceritakan proses pembuatan motif dan batik Jawa, yang dibawakan secara lemah gemulai dan kemayu oleh para penari.
Dalam tarian ini ditunjukkan macam-macam motif batik jawa yang akrab dikenal masyarakat kebanyakan. Diantaranya Sidomukti, Truntum, Kawung, Semen, Udan Liris, Parang Rusak, Parang Kusumo dan Parang Klithik.
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan. Itulah mengapa tarian Ambabar Batik ini semua penarinya adalah perempuan.
Tarian ini mengandung makna bahwa bagaimanapun batik sudah dikenal sebagai salah satu identitas Bangsa Indonesia, tetapi kebanggan memakai batik dirasa masih sangat kurang, saat negara lain meng-klaim batik sebagai salah satu identitas mereka barulah kita merasa kecolongan. Jangan sampai anakcucu kita nanti jika ingin belajar membatik harus ke luar negeri.
Bulan puasa tlah tiba. Sebulan penuh kita berpuasa, melatih diri memerangi hawa nafsu dan godaan. Seharian tidak makan tidak minum. Bagi kawanku Supri, hal ini bukan masalah baginya. Hal biasa baginya, untuk tidak makan dan tidak minum. Bahkan ketika lupa makan sahur pun, tetep kuat sampe bedug magrib. Tapi dasar perokok, kawanku ini tidak bisa menahan keinginannya untuk merokok. Jadi selama puasa, memang tidak makan, tidak minum, tapi merokok juga tidak lupa. Ada-ada saja.
Banyak pro dan kontra akan keinginan Sultan untuk menjadi Presiden. Kegelisahan, kegembiraan dan ketakutan memang bercampur menjadi satu dalam gejolak pemikiran semua manusia yang terpusat pada keinginan Ngarso Dalem ini. Hal yang sangat biasa untuk sebuah keinginan yang luar biasa berani.
Ikon Ngarso Dalem sebagai pengayom masyarakat Jogja, tetap lekat sampai saat ini. Ini terbukti dengan tanggapan dari masyarakat kecil Jogja. Apa pun yang terjadi nanti masyarakat Jogja akan tetap mendukung Sultan. Dengan harapan Sultan masih mau bersentuhan dengan masyarakat kecil Jogja. Ya, itulah Sultan, tetap punya Kharisma yang tak bisa dilupakan masyarakat kecil begitu saja.

Kemerdekaan yang kita rasakan sekarang diraih dengan susah payah. Butuh pengorbanan besar untuk mendapatkannya. Pendahulu bangsa ini telah mempertaruhkan jiwa dan raga demi kehidupan para penerusnya. Sadarkah kita akan hal ini? Kira-kira seperti inilah pesan yang terkandung dalam permainan panjat pinang. Permainan yang cukup populer diadakan pada acara peringatan kemerdekaan, baik di kota maupun di kampung-kampung pelosok daerah.
Client : Gudegnet
Media : Kabare Magazine
Art Director : Ardian Sukmaji
Illustrator : Ardian Sukmaji
Copywriter : Iwan Pribadi
Sekomplit gudeg yang sering dihidangkan oleh para penjual di warung-warung dan di lesehan-lesehan seputar Jogja, yang siap disantap oleh para pengunjung dengan nikmatnya…
GudegNet – Gudang Info Kota Jogja juga berusaha memberikan informasi dan berita yang komplit seputar Jogja dengan harapan semuanya itu juga dapat disantap oleh para pengunjung dengan nikmat dan memuaskan…
Iklan Layanan Masyakat, Hari Anak Nasional 2008. Dipersembahkan oleh Gudegnet, dipublikasikan di media cetak oleh Kabare Magazine.
Client : Gudegnet
Media : Kabare Magazine
Art Director : Ardian Sukmaji
Illustrator : Ardian Sukmaji
Copywriter : Iwan Pribadi
Sunda Manda a.k.a. Engklek adalah permainan tradisional yang idealnya dimainkan 2 sampai 5 orang.
Cara bermainnya sederhana saja, cukup melompat menggunakan satu kaki disetiap petak-petak yang telah digambar sebelumnya di tanah.
Untuk dapat bermain, setiap anak harus berbekal gacuk yang biasanya berupa sebentuk pecahan genting alias kreweng, yang dalam permainan kreweng ini ditempatkan di salah satu petak yang tergambar di tanah dengan cara dilempar, petak yang ada gacuknya tidak boleh diinjak/ ditempati oleh setiap pemain, jadi para pemain harus melompat ke petak berikutnya.
Pemain yang menyelesaikan satu putaran terlebih dahulu, berhak memilih sebuah petak untuk dijadikan “sawah”, yang artinya di petak tersebut pemain yang bersangkutan dapat menginjak petak itu dengan dua kaki, sementara pemain lain tidak boleh menginjak petak itu selama permainan.






Comments